Feb
15
2010
Indonesia
Author: shadowbaneIndonesia Raya, merdeka, merdeka
Tanahku Negriku yang kucinta
Indonesia Raya, merdeka, merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Masih ingatkah kita dengan lagu diatas? Sebagian besar dari kita pasti tau lagu itu, Indonesia Raya, lagu kebangsaan kita. Namun tak sedikit yang sudah lupa dengan liriknya, dan banyak yang tidak hafal lagunya sama sekali. Dan ironisnya, hanya segelintir yang mengerti makna sebenarnya dari lagu tersebut!
Disclaimer : - Untuk yang sok cinta Indonesia, lebih baik segera pergi dari sini, ini cuma celotehan orang gila.
- Untuk yang benar2 cinta Indonesia, tulisan saya semata-mata ditujukan untuk membangun Negara kita yang tercinta ini.
Saya sering berdiskusi dengan teman saya, sharing pikiran dan sebagainya, meski terkadang yang dibicarakan itu hal sepele, namun dalam diskusi saya sering mendapat ilmu baru dan ‘another point of view’. Misalnya saja, ketika kami membicarakan hal sepele namun cukup mengganggu. Angkot. Memang banyak dari kita yang terbantu dengan keberadaan mereka, namun keberadaan mereka yang tak terkontrol cukup membuat kepala pusing. Satu celotehan dari bos saya, “Jangankan kita, tuhan saja nggak tahu kalo mereka mau stop!” Celotehan itu sudah menggambarkan seperti apa sih angkot di Indonesia ini.
Pada master plan OB memang tidak disebutkan akan adanya angkot, malah katanya akan dibangun stasiun SMRT seperti di Singapur. Namun kenyataannya, angkot lah yang menjadi raja jalanan di sini. (CMIIW)
Lalu, apa hubungannya dengan diskusi antara saya dan teman2, dan Indonesia tercinta ini?
Antara diskusi saya dan teman2, kami memang membicarakan angkot, dan SMRT. Kami membicarakan “kemana investasi kita?” “kemana pajak kita” dalam perhitungan kasar kami, jika kita menganggarkan sekitar 2T (ya, 2 Triliun Rupiah!) untuk pembangunan public infrastructure, Batam dapat menjadi salah satu bandar dunia yang tak kalah dengan Singapur!
Mari beranjak dari hasil diskusi antara orang2 bodoh tersebut. Kembali ke Indonesia. Pertanyaannya adalah, di negeri ini banyak sekali Universitas, Perguruan Tinggi, Politeknik, atau lembaga pendidikan lainnya, namun kemana mereka? Mereka ada, namun pikiran mereka (termasuk kita) sudah teracuni, terjajah sejak zaman nenek moyang kita, dimana kita hanya mau enaknya saja, dan uang, atau status adalah suatu yang digunakan untuk menilai harga diri seseorang. Kita telah terbiasa hidup enak, tanpa keringat, dimana untuk pergi ke sekolah saja kita butuh kendaraan pribadi, udah nggak zaman lagi naik kendaraan umum!! Kita sudah terbiasa hidup dimanja dengan uang, dimana ketika kita kerja, segala sesuatu hanya dinilai dengan uang! Dan para manusia-manusia berilmu ini akhirnya hanya punya satu tujuan : mencari uang untuk memenuhi hidupnya. Tak lagi terpikirkan untuk membangun Indonesia ini. Maaf, dimata saya, pemerintah sekarang tidak memiliki pandangan masa depan seperti Bung Karno, Pak Habibie, dan Gus Dur. Merekalah yang banyak membangun Indonesia hingga berdiri sampai sekarang ini. Di zaman Bung Karno lah Indonesia memiliki angkatan tempur yang mampu membuat Belanda mundur teratur dari Irian Barat. Karna ide2 Pak Habibie lah Indonesia mampu memiliki fasilitas-fasilitas yang hebat, dan karna visinya lah tanah tempat saya berpijak kini menjadi salah satu bandar dunia. Dan karna Gus Dur lah kita kini bisa saling menyatu, terbuka, dan berbaur tanpa rasa takut.
Dan sekali lagi, jarang sekali ada dari kita yang berdedikasi seperti mereka. Uang, uang, dan uang. Saya sendiri tidak bisa munafik, bahwa saya sendiri membutuhkan UANG untuk HIDUP. Lalu, kapan kita mau meluangkan waktu untuk berdiri sejenak, membuka mata hati, dan melihat sekeliling? Bahwa kita anak Indonesia, dan Ibu Pertiwi butuh kita?
Kita di sekolah diajarkan untuk mencintai Indonesia, namun pendidikan di rumah malah menyalahkan pemerintah atas ketidakmampuan kita untuk bangkit. dan masih banyak lagi! Saking tidak cintanya kita terhadap tanah air ini, tanpa kita sadari kita membuat diri kita miskin!
Memang kita dipersilahkan untuk memilih jalan hidup kita sendiri, dan menentukan nasib kita sendiri. Tapi seperti kata Bung Karno, “beri saya 10 pemuda yang cerdas, berani, dan kuat, maka saya akan mengggerkan dunia!” Namun para pemuda sekarang seakan tak bertaji. Hanya bisa dilihat jika memiliki kamera DSLR menggantung, motor / mobil mewah, kantong tebal, dan mampu main band. Kemana saudara-saudara kita yang biasa memainkan kuda lumping? mereka yang biasa menarikan zapin? persembahan? atau mungkin tortor? Sudah jarang sekali, nggak modern katanya.
Dan itulah pandangan yang menyebabkan kita makin mundur. Jepang saja bisa maju tanpa melepaskan ikatan mereka dengan budaya mereka. Kita yang harusnya bisa menjual kebudayaan kita dan keramah tamahan kita malah tanpa sungkan meniru adat barat (termasuk penulis!!).
dan kapan kita akan merdeka jika pikiran kita terus terjajah? Akankah Indonesia Raya benar2 terwujud? Bahkan tuhanpun takkan tahu, kalau sikap orang Indonesia masih terus seperti ini!



